Pemilu
Borjuasi 2014
Jalan Sesat
Untuk Menindas Rakyat Indonesia
“Tidak ada
kemenangan yang paling mulia,
Daripada terbebas
dari belenggu penindasan
dan menjadi
manusia yang merdeka”
Tidak lama
lagi, rakyat Indonesia disuguhi pentas drama dari elit-elit politik. Bagi
mereka, pentas drama ini merupakan puncak demokrasi Indonesia dimana masa depan bangsa Indonesia akan dipikul oleh
orang-orang terpilih layaknya ksatria Pinandito atau satrio Piningit menurut
ramalan Joyo Boyo. Rakyat ditanamkan pemahaman bahwa untuk memperbaiki negara
dan merubah keadaan menjadi lebih baik adalah melalui PEMILU.
Pertanyaannya, apakah
benar pemilu (Pemilu 2014) merupakan pesta demokrasinya rakyat Indonesia yang akan
memperbaiki kemiskinan, kebodohan dan penderitaan Rakyat dan bangsa Indonesia? Selama ini, elit politik
mengatasnamakan rakyat untuk menduduki tampuk kekuasaan. Namun selama itu pula
rakyat selalu dan semakin kehilangan hak-hak sosialnya, seperti
kehilangan tanah, pekerjaan, pendidikan, kesehatan dan kehilangan
subsidi-subsidi sosial lainnya. Dibandingkan pemilu sebelumnya, pemilu 2014
memerlukan anggaran yang lebih besar. Pada 2008, pemerintah telah menganggarkan
dana sebesar Rp 6,67 triliun sebagai biaya persiapan tahapan pemilihan umum
pada 2009. Setidaknya pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 13 triliun
untuk pelaksanaan pemilihan umum, dengan realisasi yang tercatat sekitar Rp 8,5
triliun. Sedangkan pada pemilu 2014 kebutuhan anggaran untuk KPU saja sebsar Rp
16,2 triliun. Hal ini diungkapkan oleh Ketua KPU Pusat, Husni Kamil Manik.
Sumber dana pemilu yang sebesar itu dikuras dari APBN 2013 sebesar Rp 8,1
triliun dan 2014 Rp 8,1 triliun. Anggaran besar yang berasal dari uang rakyat
habis digunakan untuk menipu rakyat sebagai peserta (konstituen) pesta
demokrasi hanya untuk mengantarkan elit politik pada
kursi kekuasaan dan mempertahankan tatanan sosial yang tidak adil dan menindas.
Bisa kita track, beberapa partai besar dan calon-calon
yang di usung dalam pemilu 2014 nanti. Tidak lain tidak bukan, pemilu 2014
adalah pesta demokrasinya Pengusaha, Intelektual borjuasi (akademisi), Elit
Politik (politisi) Borjuis dan Purnawirawan Militer. Partai NASDEM, dipimpin
oleh Surya Paloh yang berlatar belakang Pengusaha, bagaimana bisa
mensejahterakan Rakyat Indonesia kalau Buruhnya yang bekerja METRO TV
(Lutviana) tidak diberikan HAK untuk berserikat dan bahkan di PHK dari
pekerjaannya (Union Busting). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P),
dipimpin oleh mantan Presiden RI tahun 2003 yang sukses menjual asset negara
(BUMN) dan melahirkan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang
melegalkan sistem kerja kontrak dan outsourcing dan masih diterapkan hingga
saat ini dan mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden RI yang juga tidak
memberikan upah layak bagi buruh DKI Jakarta. Partai GOLKAR, dipimpin oleh Abu
Rizal Bakrie, berlatar belakang pengusaha kaya raya yang sampai saat ini tidak
bertanggung jawab terhadap tragedi LUMPUR LAPINDO, kasus Penggelapan Pajak dan
berbagai konflik agraria karena keserakahan Bakrie Group. Partai Gerakan
Indonesia Raya (GERINDRA) dipimpin oleh mantan Jenderal TNI Angkatan Darat
Prabowo Subianto yang memimpin Tim Mawar dalam operasi penculikan aktivis dan
salah satu Pelanggar HAM pada peristiwa Mei 1998 dan sekarang menjadi salah
satu Pengusaha Besar di Indonesia dan Tidak memberikan kesejahteraan kepada
buruh yang dipekerjakannya. Partai HANURA yang dipimpin oleh Purnawirawan TNI,
yaitu Wiranto yang juga salah satu pelanggar HAM pada tragedi Mei 1998. Partai DEMOKRAT,
dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang sukses menjalin kerja sama dengan
negara-negara Kapitalistik untuk membuka ruang liberalisasi ekonomi Indonesia
seluas-luasnya untuk menancapkan pengaruh kekuatan modal di Indonesia dan
perangkat kebijakan (MP3EI, berbagai Undang-undang Pro Modal), bahkan diisi
dengan elit-elit politik busuk yang korup. Partai Keadilan Sejahtera (PKS),
dipimpin oleh Anis Matta yang juga diisi oleh elit-elit politik korup bahkan
dilakukan sampai tingkat pimpinannya (kasus daging sapi misalnya). Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dipimpin oleh Muhaimin Iskandar yang masih
mempertahankan sistem Labour Market Fleksibility (sistem Kerja Kontrak dan
Outsourcing) terhadap kelas pekerja Indonesia. Itulah beberapa partai besar
beserta calon-calonnya yang menjadi peserta pemilu 2014 nanti, apakah kita
(Rakyat Indonesia) akan MENYERAHKAN NASIB dan MASA DEPAN BANGSA Indonesia pada
partai-partai liberal tersebut yang sejatinya diisi oleh kelas borjuis dan
tidak akan sura rela memberikan kesejahteraan kepada Rakyat. Justru sebaliknya,
Rakyat hanya akan dijadikan korban dari janji-janji dan jargon-jargon yang
tidak lebih sebagai pepesan kosong untuk memikat dan menarik hati rakyat.
Sampai saat ini, tidak ada satupun partai borjuis yang
pernah memberikan dan memperjuangkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
Rakyat Indonesia. Tidak ada yang benar-benar memiliki cita-cita membangun
tatanan masyarakat yang adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi,
demokratis secara politik, dan partisipatif secara budaya di bawah kepemimpinan
kelas pekerja. Mereka (kelas borjuis) hanya menghendaki kekuasaan ada di bawah
kontrol/kendali dan keinginan mereka.
Berjalan Atau
Tidaknya Pemilu Borjuasi 2014
Kekuatan Yang
Akan Menggerakkan Indonesia Adalah Kekuatan Kelas Pemodal
Tidak
ada pendidikan gratis di Indonesia. UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang
dibangga-banggakan Badan Hukum Perguruan Tinggi Negeri (BHPTN) bukan solusi
atas minimnya partisipasi terhadap pendidikan tinggi dan tidak mengurangi angka
putus kuliah. Sistem subsidi silang yang menjadi andalan UKT sangat membatasi
akses mahasiswa kurang mampu dengan mematok maksimal 20 % beasiswa Bidik Misi
Universitas. Sementara, subsidi silang didapat dari patokan biaya kuliah per
semester yang bervariasi. Tak ada pendidikan yang demokratis di Indonesia.
Banyak kampus terang-terangan melakukan intervensi terhadap dinamika politik
dan aktifitas mahasiswa. Salah satu praktiknya adalah melarang aktifitas
politik dan melakukan kampanye hitam terhadap organisasi-organisasi ekstra
kampus. Mereka secara sepihak menuduh organisasi ekstra kampus sebagai biang
kerok instabilitas kampus dan mengganggu aktifitas akademik mahasiswa. Praktik
ini mengingatkan kita pada skema NKK/BKK masa Orde Baru yang mencoba
memberangus budaya kritis mahasiswa. Belum lagi sistem presensi yang sangat
ketat, dan dengan konyol semena-mena memberikan sanksi larangan ujian mahasiswa
yang tidak memenuhi absensi 75%-90%. Belum lagi penerapan Ujian Nasional yang
masih dijadikan penentu kelulusan siswa, padahal pada tahun 2008 sistem Ujian
Nasional telah Batal secara hukum melalui Mahkamah Agung Republik Indonesia
terhadap perkara No.2596 K/PDT/2008 karena bertentangan
dengan UUD 1945 dan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional
serta PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional dan
memperkuat putusan pengadilan Tinggi Jakarta yang menolak kasasi Pemerintah
untuk tetap melaksanakan ujian nasional. Tetapi pada faktanya, Ujian Nasional masih
diterapkan Hingga Sekarang.
Tidak hanya di
sektor pendidikan, dengan langgengnya praktek Labour
Market Flexibility akan semakin menjerat kelas pekerja dalam ketidakpastian
melalui sistem kerja kontrak dan outsourcing serta menekan kesejahteraan dengan
politik upah murah dan pemberangusan serikat
(Union Busting) yang tidak mampu dijawab oleh rezim dan elit politik hingga
saat ini.[1] Belum lagi jika kita dihadapkan dengan kasus agraria
yang dihadapi kaum tani Indonesia, melalui Program MP3EI, negara yang berada di
bawah kekuasaan kaum modal terus melakukan penghilangan HAK atas sumber-sumber
Agraria yang seharusnya mejadi HAK Rakyat. Lewat perangkat-perangkat
Undang-undang, misalnya UU Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, UU Pertambangan,
UU Minerba, UU Migas, UU Ketenagalistrikan dll, digunakan untuk melakukan
perampasan tanah secara legal dan meneror perlawan rakyat dengan kekuatan
aparat bersenjata.
Ditengah situasi krisis yang dihadapi oleh sistem
ekonomi yang berkuasa saat ini (baca: kapitalisme), dimana kelas pemodal akan
terus menggunakan Negara sebagai alat penyelamat krisis serta membuka ruang
LIBERALISASI EKONOMI secara massif. Konsekuensi logis dari situasi itu adalah,
tata kelola sebuah Negara (khususnya Indonesia) akan berada di bawah
cengkeraman kaum modal, bisa kita lihat dari berbagai skema pembangunan ekonomi
yang dilakukan oleh Negara. Mulai dari penerapan politik upah murah, sistem
kerja kontrak dan outsourcing, kebijakan liberalisasi pendidikan dan kesehatan,
sistem asuransi yang dibungkus dalam sistem jaminan sosial dll.
PERSATUAN
RAKYAT
Sebagai Jalan
Utama Menuju Pembebasan Nasional Melawan Imperialisme
PERSATUAN,… PERSATUAN,.. PERSATUAN,... karena sejarah
telah menunjukkan dan membuktikan, bahwa kemerdekaan, kebebasan, kemenangan,
adalah buah dari perjuangan kolektif, karya rakyat yang disatukan dalam ALAT
PERJUANGAN sebagai senjata untuk menunjukkan pada kelas penguasa bahwa
kekuasaan mereka tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada Rakyat.
Begitu pula dengan Rakyat Indonesia, kemerdekaan 100%,
kebebasan, kesejahteraan, tidak bisa kita gantungkan pada akal bulus dan tipu
muslihat kelas borjuasi lewat PEMILU yang sejatinya adalah pemilu para
PERAMPOK, PENIPU dan PENINDAS. Pertanyaan sederhana, “bagaimana mungkin
penderitaan, kemiskinan, kebodohan, penindasan yang dialami oleh Rakyat,
keluarga, anak-anak, perempuan dan sanak saudara kita yang sudah berlangsung
bertahun-tahun, dimana kita– RAKYAT– dipaksa untuk tunduk dan mengabdi pada
kepentingan dan keinginan kelas penindas. Bagaimana keadaan tersebut kita
yakini bisa berubah menjadi lebih baik, jika kita berharap pada proses
pemilihan umum semata??”
TIDAK!!! Kita tidak akan mempercayakan nasib kita pada
kelas penindas, kelas penghisap, kelas biadab dan brengsek. Maka menjadi tugas
sejarah bagi kita, Serikat Mahasiswa Indonesia sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari Perjuangan Rakyat, untuk MEMPERKUAT ORGANISASI DAN MENDORONG
PERSATUAN RAKYAT untuk menentukan TAKDIR dan NASIB kita sendiri sebagai Rakyat
Indonesia yang terhina, diinjak dan dilecehkan di atas tanah air kita sendiri.
Terus memperluas kesadaran Anggota dan segenap Rakyat, bahwa kebutuhan kita
bukanlah mendukung pemilu 2014, melainkan membangun PERSATUAN segenap Rakyat
untuk Membentuk PEMERINTAHAN TRANSISI di bawah kepemimpinan KELAS PEKERJA yang
tidak akan pernah berkompromi atau bekerjasama dengan kelas BORJUASI!!!
Memassifkan perjuangan tingkat kampus, perjuangan sektoral untuk menegaskan
bahwa melalui jalan MASSA AKSI yang TERATUR, TERDIDIK DAN TERORGANISIR kita
akan mampu memukul MUSUH dengan AKSI MASSA.
Maka semakin
terang kita lihat, bahwa sepanjang sistem kapitalisme dengan krisis sebagai
cacat bawaannya masih menancapkan kukunya di Indonesia, maka sepanjang itu pula
Rakyat tidak akan mencapai kesejahteraan dan tatanan sosial yang adil. Satu
kemestian juga bagi segenap Rakyat untuk memperkuat perlawanan untuk
memperdalam krisis kapitalisme hingga mengantarkannya ke liang kubur untuk
selamanya. Untuk itu, kita - Serikat
Mahasiswa Indonesia - dengan ini
menyatakan dengan tegas kepada negara dan menyerukan kepada segenap rakyat,
untuk:
·
Lawan Pemilu Borjuasi 2014
·
Lawan
Kapitalisasi Pendidikan
·
Hapuskan Ujian Nasional
·
Hapuskan Sistem Uang Kuliah Tunggal
·
Lawan politik
Upah Murah
·
Lawan
liberalisasi Ekonomi (Perdagangan Bebas)
Jalan keluar menuju kesejahteraan
RAKYAT:
·
Nasionalisasi Asset Vital Di Bawah Kontrol Rakyat
·
Bangun Industrialisasi Mandiri Yang Berkarakter
Kerakyatan
·
Laksanakan Reforma Agraria Sejati
·
Wujudkan Pendidikan Gratis (Dari TK – Perguruan
Tinggi), Ilmiah, Demokratis Dan Bervisi Kerakyatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar